TUJUAN NU

BERLAKUNYA AJARAN ISLAM YANG MENGANUT FAHAM AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH UNTUK TERWUJUDNYA TATANAN MASYARAKAT YANG BERKEADILAN DEMI KEMASLAHATAN, KESEJAHTERAAN UMAT DAN DEMI TERCIPTANYA RAHMAT BAGI SEMESTA (PASAL 8 AYAT (2) ANGGARAN DASAR NU)

PIMPINAN RANTING NU DARUNGAN MASA KHIDMAT 2023-2028

RAIS SYURIYAH: Ust. ABD. ROZAQ (Pakeman, Dusun Jumbatan) bersama KETUA TANFIDZIYAH: Ust. ABU HASAN TOYIB (Lorkali, Dusun Krajan)

Minggu, 22 Desember 2019

NU BANGUN KOMUNIKASI

Doc. Kepala Desa Darungan, H. Sukron Arafit (pegang mikropon) diapit oleh pengurus NU.
NUDARUNGAN. Kepercayaan anggota / nahdliyyin kepada pengurus NU merupakan amanah yang wajib dilaksanakan, dengan segala upaya dan daya amanah tersebut dilaksanakan sampai benar-benar tujuan NU tercapai meskipun hasilnya belum maksimal.

Tidak terkecuali pengurus (Ranting) NU (desa) Darungan masih konsisten melaksanakan kegiatan rutin dari masjid ke masjid, kali ini bertempat di Anak Ranting NU Kelompok masjid Baitul Qomariyah Jejengan Dusun Sumberbulus Desa Darungan Kec. Tanggul Kab. Jember Prov. Jawa Timur.

Dilain sisi, H. Nasrullah dalam sambutannya, “NU (Ranting Darungan) akan mengadakan rombongan ziarah wali, mari saudara-saudaraku yang berkenan ikut rombongan ini dengan nilai plus yaitu sekaligus sudah menyumbang untuk acara pengajian yang dilaksanakan oleh NU nanti.” Ujar Wakil Rais asal Durinan ini.

Sementara dalam sambutannya H Sukron Arafit, Kepala Desa Darungan, “Apresiasi karena NU masih (bisa) eksis sampai sekarang, kegiatan (rutinan) ini bertujuan untuk syiar Islam, perlu dilestarikan.” Ujar alumni pondok pesantren Fatihul Ulum Manggisan ini.

Pemerintah Desa dengan pelaksana ISNU dan Karangtaruna desa Darungan akan mengadakan acara malam tahun baru yang diisi dengan Istighotsah dan Sholawat Nabi juga dilanjutkan dengan pelantikan Karangtaruna, penyampaian komitmen ISNU, mauidlatul hasanah, nobar layar lebar, dan acara puncak.

Masih sambutan Kepala Desa, “Mengundang segenap jajaran pengurus NU Darungan dalam acara Istighotsah dan Sholawat Nabi pada hari selasa malam rabu, 31 Desember 2019. Pungkasnya.

Memimpin tawassul (daftar khususon mecnapai 109 orang) Ust Abd Rozaq (Katib), dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin dan tahlil oleh Ust. Noer Salim (Wakil Ketua III). Sedangkan yang mimpin Istighotsah dari anak ranting NU masjid Barokatul Amin Kemirian, Ust. H. Samsul Arifin. Dilanjutkan dengan kajian kitab masalah / bab najis oleh Ust. Hanafi (wakil katib asal pakeman)

Selasa, 22 Oktober 2019

RUH HARI SANTRI ADALAH CINTA TANAH AIR


Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi Jihad memuat seruan-seruan penting yang memungkinkan lndonesia tetap bertahan serta berdaulat sebagai negara.

‘’Ruh dari Hari santri adalah cinta Tanah Air. lslam mengajarkan cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman,’’ kata Wakil Bupati Kendal Masrur Masykur pada upacara peringatan Hari Santri Nasional ke-5 Tahun 2019 yang digelar di Alun-alun Kendal, Selasa (22/10).

Cinta Tanah Air untuk saat ini bukan membela negara melawan penjajah bersenjata, melainkan melawan kebodohan melalui pendidikan, kemiskinan melalui ekonomi atau UMKM, dan ideologi melalui penyadaran terhadap radikalisme, komunisme, terorisme, dan atheisme yang bertentangan dengan Pancasila dan NKRI, serta melawan narkoba.

‘’Jadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai sebagai tonggak bersatu. Jangan sekali-kali terpecah belah. Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang jaman. Mari songsong kehidupan yang lebih baik untuk semua,’’ tambahnya di hadapan Forkompimda, ulama, dan puluhan santri dari perwakilan ponpes di Kendal.
Hari Santri Nasional merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Hari Santri Tahun ini merupakan momentum untuk mempertegas peran santri sebagai pioner perdamaian yang berorientasi pada spirit moderasi lslam di Indonesia.

Karakter kalangan pesantren yang moderat, toleran, dan komitmen cinta tanah air, diharapkan bisa semakin vokal untuk menyuarakan dan memberikan contoh hidup damai serta menekan lahirnya konflik di tengah-tengah keberagaman masyarakat.
‘’Tidak ada santri kalau tidak ada kiai dan begitu sebaliknya. Mari tebarkan kedamaian, kapanpun, dimanapun, kepada siapapun. Sesuai dengan tema peringatan Hari Santri Nasional tahun ini adalah ’Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia’,’’ tuturnya.

Minggu, 20 Oktober 2019

NU DARUNGAN DALAM EMPAT PERINGATAN

Doc. Pengurus NU bersama Ta'mir masjid
NUDARUNGAN. kegiatan rutinan kemasjid-masjid hari ini tampak spesial, hal ini karena acara yang digelar pada hari Ahad pon (21 Shaffar 1441 H / 20 Oktober 2019 M) di Masjid Baiturrohman Plalangan dusun Jumbatan ini, bersamaan dengan momen bersejarah. pertama, Peringatan Hari Santri Nasional (Selasa , 22 Oktober 2019). Kedua, Haul Al Habib Ahmad bin Umar Al Idrus Bondowoso. Ketiga, Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dan keempat, menyambut Pelantikan Kepala Desa Darungan (Rabu 23 Oktober 2019).

Sementara sambutan Pengurus Ta’mir Baiturrohman diwakili oleh bapak Sutono, bapak Mahput selaku Ketua BPD Darungan dan sambutan sekaligus tausiyah oleh Lora Ach Sybli Azroi (Wakil Rais Syuriyah NU Darungan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Karangjati dusun Krajan).

Bapak Mahput Ketua BPD Darungan menyampaikan, Tugas BPD adalah menyerap dan menyampaikan / menyalurkan aspirasi masyarakat kepada pemdes (kades), nantinya sebagai pedoman oleh kepala desa beserta jajarannya dalam melaksanakan program pembangunan desa” Sambut wakil rakyat (BPD) asal dusun Krajan yang dilantik pada 12 November 2018 lalu ini.

Masih menurut bapak Mahput, “pasca pelaksanaan pilkades bulan lalu (19/10/2019), saya menghimbau kepada masyarakat Darungan untuk selalu menjaga perdamaian. Kepada anggota BPD saya mengajak untuk selalu aktif dalam menyerap aspirasi melalui kegiatan-kegiatan di masyarakat (salah satunya seperti ini), dan giat bekerja sesuai peraturan yang berlaku pada BPD” ujar alumni Pondok Pesantren Darul Hikmah Al Hasan Karanglo Desa Tanggul Wetan ini.

Dalam catatan NU, Ketua BPD pernah berjanji kepada Ketua NU Darungan untuk aktif mengikuti kegiatan bulanan dari masjid ke masjid yang diselenggarakan oleh NU, dalam rangka lebih dekat menjalin silaturrahmi, menyerap aspirasi, dan belajar lebih dalam (teknis dilapangan. Red) tentang NU, khususnya di desa Darungan.

Bertindak sebagai penata acara: Ust. Nursalim (Wakil Ketua III), mimpin pembacaan Tawassul Ust. Sutiono / P. Firman (Wakil Ketua II), pembacaan surat yasin : Ust. Abd Rozaq (Katib), Tahlil : Ust. Nurul Mustofa Arifin (Wakil Ketua V), doa: Ust. Hanafi (Wakil Katib), dan Doa Iftitah atau penutup acara ini oleh Ust. H. Syamsul Arifin tokoh agama Kemirian dusun Jumbatan.

Senin, 14 Oktober 2019

Minggu, 22 September 2019

MOMEN MEMPERSATUKAN WARGA DARUNGAN

Doc. Ustad Abu Hasan Toyyib (Ketua NU Darungan) memberi sambutan.
NUDARUNGAN. Pelaksanaan kegiatan Santunan Anak Yatim dalam rangka peringatan tahun baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriyah yang telah memasuki tahun ke 7 (tujuh) sejak tahun 2013 atau sejak masa kepengurusan NU Darungan masa khidmat 2013-2018 sengaja di laksanakan pada hari Ahad, 22 Muharram 1441 H / 22 September 2019 M. Pasca pilkades Darungan sesuai koordinasi dengan berbagai pihak, salah satunya dengan kepolisian sektor (POLSEK) Tanggul pelaksanaan tetap di lokasikan di halaman Kantor Sekretariat Ranting NU Darungan Kec. Tanggul Kab. Jember Prov. Jawa Timur.

Sementara sambutan Camat Tanggul, H. Imam Ghozali, S.Pd., M.Pd. “Desa Darungan ini luar biasa, pasca PILKADES (3 hari lalu / Kamis, 19 September 2019), yang secara umum berjalan dengan aman, damai, dan lancar, serta hari ini kades terpilih dan calon kades hadir bersama-sama kita, ini merupakan nikmat Allah Swt kepada kita semua (disambut tepuk tangan hadirin), tugas kita kedepan mari bersama-sama menjaga ketertiban dan keamanan diwilayah masing-masing…” Demikian Camat Tanggul yang dilantik pada Selasa (11/6/2019) lalu ini memberi motivasi. Masih menurut Camat Tanggul, “Nanti kita usulkan kepada Bupati Jember, tentang pelantikan kepala desa (kades) terpilih, perkiraan bulan depan pelantikan.. ”

Kita ketahui bersama bahwa NU sebagai organisasi/perkumpulan/jam’iyyah diniyyah islamiyyah ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan Islam) ini dituntut bijaksana dalam menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan ketinggian harkat dan martabat manusia sesuai Qanun Asasi, AD/ART NU atau konstitusi NU, dan ketentuan yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama’. Maka dalam pelaksanaan pilkades Darungan, NU berupaya mewujudkan hubungan antar bangsa yang adil, damai dan manusiawi menuntut saling pengertian dan saling memerlukan, maka Nahdlatul Ulama’ bertekad untuk mengembangkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah yang mengemban kepentingan nasional dan internasional dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip al-ikhlash (ketulusan), al-‘adalah (keadilan), at-tawassuth (moderasi), at-tawazun (keseimbangan) dan at-tasamuh (toleransi) sebagaimana petunjuk PBNU serta dalam pandangan Kiai Sahal Mahfudh (Rais ‘Aam PBNU dalam beberapa kesempatan waktu itu), “politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah (siayasah safilah) adalah porsi  partai politik bagi warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan. Sedangkan NU sebagai lembaga atau organisasi, harus steril dari politik semacam itu. Kepedulian NU terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi (siyasah ‘aliyah samiyah), yakni politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan etika berpolitik.”

Bagaimana jika ada pengurus NU menjadi tim sukses cakades, sesuai hasil keputusan Musyawarah NU, pada hari Selasa malam Rabu, 23 Dzulhijjah 1440 H / 3 September 2018 M di Sekretariat NU Darungan. Dengan keputusan sebagai berikut :
1.      Menghimbau warga Darungan untuk menggunakan hak politik/suaranya sesuai hati nurani;
2.      Menghimbau dan mendorong warga Darungan untuk bersama-sama menjaga stabilitas, ketertiban, kesejukan, dan kedamaian pada pelaksanaan PILKADES, dan pasca PILKADES;
3.      Secara Jam’iyyah, NU Darungan tidak memihak Calon Kepala Desa manapun;
4.      Apabila pengurus NU menjadi pendukung/tim calon kepala desa, yang bersangkutan atas nama pribadi, dan tidak ada kaitan dengan Jam’iyyah NU, segala akibat yang ditimbulkan oleh yang bersangkutan menjadi tanggung jawab pribadi;
5.      NU Darungan menghimbau dan mendorong panitia PILKADES berjalan jujur, adil, transparan dan damai;
6.      Apabila ada hal-hal permasalahan yang berkaitan dengan Jam’iyyah NU, akan diselesaikan secara bijaksana dengan musyawarah mufakat.
7.      Menghimbau kepada Badan Otonom (BANOM) NU Desa Darungan untuk memperhatikan dan mengindahkan dengan bijaksana sikap ini sesuai PD/PRT masing-masing.

JADILAH SEPERTI BANGUNAN, BERBEDA-BEDA NAMUN SATU TUJUAN

Doc. Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin (Gus Aab) memberi

NUDARUNGAN. Suksesnya pelaksanaan suatu acara / even dalam internal Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ (NU) adalah kurangnya konsumsi, hal ini telah terbukti pada saat pelaksanaan acara Santunan Anak Yatim dalam rangka peringatan tahun baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriyah yang diselenggarakan oleh Pengurus NU desa Darungan Kec. Tanggul Kab. Jember pada hari Ahad, 22 Muharram 1441 H / 22 September 2019 M di halaman Kantor Sekretariat Ranting NU Darungan.

Siraman rohani oleh Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, Ketua PCNU Jember, lebih banyak menyejukkan hati seperti yang beliau sampaikan, “Warga Darungan yang baru selesai mengadakan hajatan PILKADES setiap 6 (enam) tahunan, mari jadilah seperti bangunan, meskipun beda pilihan tapi satu tujuan, yaitu membangun desa Darungan, kita lihat bangunan (rumah misalkan), ada yang jadi batu bata, semen, kapur, batu, dll. Sehingga terwujudlah suatu bangunan yang indah, jangan paksa semua orang sama, biarkanlah berjalan sesuai aslinya. Dengan perbedaan tersebut justru akan menjadi irama yang indah, kita contohkan lagi hadrah, meskipun berbeda-beda namanya namun satu tujuan, bayangkan kalau jadi jidur semua, atau terbang semua, maka akan menghasilkan bunyi yang kurang indah atau a gaung…. (dan seterusnya).” Tegas Gus Aab (panggilan akrabnya) yang juga pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember ini dengan semangat.

Masih menurut Gus Aab, “bapak ibu saudara semuanya, kita tahu didalamnya ini (jari sambil menunjuk kebelakang. Red) calon kades dan kades terpilih (periode 2019-2025) hadir ditegah-tengah kita, jika pemimpinnya sudah akur, dan rukun masa kita tidak, kita doakan semuanya sehat dan lancar usaha dan rezekinya (aminn,,,jamaah serentak. Red).” Demikian kata Dosen Fakultas Syariah dan Pascasarjana IAIN Jember ini.

Hadir dalam acara tersebut, Camat beserta Kasi pemerintahan Tanggul yang juga Pj. Kepala Desa Darungan, Kapolsek beserta Kanit Provos, Danramil, Sekdes, BPD, dan segenap ketua RT / RW, Pengurus Ranting, Muslimat NU, Anak Ranting, Ta’mir Masjid/Musholla, pimpinan jamaah sholawat, yasinan, rutinan, tokoh pemuda, pengurus ISNU, IPNU Darungan, dan jamaah/warga Darungan.

Untuk jumlah yang hadir, menurut koordinator konsumsi panitia Santunan Anak Yatim NU Darungan, bapak Sutomo (yang akrab dipanggil P. Is), “Orang-orang banyak yang tidak mendapatkan konsumsi (makanan kotak), sisanya kue” ujar bapak yang selalu setia dalam kegiatan NU ini. Jika berdasarkan perhitungan konsumsi, maka yang hadir diperkirakan 1000-an jamaah, mengingat konsumsi (makanan kotak) yang disediakan panitia mencapai 700 kotak, dan 500-an kue, semuanya habis diberikan kepada jamaah yang hadir, baik dibawah terop maupun diluar / yang di jalan.


Senin, 26 Agustus 2019

PARTISIPASI NU DALAM TASYAKURAN HUT RI 74 DESA DARUNGAN


Dok. Ust. Abu Hasan Toyyib (Ketua NU) saat menjadi Muqosimul Auqot.
nudarungan.com. Dengan terselenggaranya tasyakuran dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 tahun atau yang sering kita dengar dengan istilah, Dirgahayu (panjang umur. Red) Republik Indonesia, maka selesai sudah rangkaian kegiatan HUT RI seperti lomba ke-Islam-an, dan tradisional yang digelar sejak tanggal 8 – 13 Agustus 2019, dan malam ini (20/08/2019) merupakan puncak acara Peringatan Hari Besar Nasioal (PHBN) tersebut.

Sementara acara pembukaan/tawassul dipimpin oleh Ust. H. Ma’sum Masyhuri (tokoh agama), pembacaan surat yasin oleh Ust. Abd Rozaq (NU), Istighotsah dan Tahlil oleh H. Nasrullah (NU), dan siraman rohani oleh Ust. A. Sybli Azroi (NU), serta bertindak sebagai muqossinal auqoth yaitu Ust. Abu Hasan Toyyib (Ketua NU Darungan).

Dalam sambutan Penjabat (Pj) Kepala Desa Darungan, bapak Djoni Nurtjahjono, SH., M.Si. menyampaikan bahwa, “mengelola (pemerintah) desa Darungan merupakan bagian dari perjuangan, kita dapat mencontoh tokoh pahlawan kita, seperti yang telah dilakukan Ir. Soekarno (presiden pertama Indonesia. Red) setiap mengambil keputusan untuk Negara, beliau tidak lupa minta bimbingan, dan arahan dari ulama. Saya berharap pelaksanaan pilkades (pemilihan kepala desa) ini berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Siapapun yang terpilih nanti, beliau adalah bapak kita semua, warga Darungan” Tutur birokrat yang murah senyum namun tegas ini.

Masih menurut Pj. Kepala Desa Darungan, “sebelum acara Tasyakuran ini (Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74. Red) telah diawali dengan pengkaderan, bibit-bibit ulama’ seperti lomba tartil, pildacil, tradisional (seperti lomba pelepasan merpati, dan legin. Red).” Ujar Pejabat asal Kaliwates ini.
Dok. Calon Kepala Desa Darungan sedang berdoa Tasyakuran HUT RI ke-74

Menarik dalam acara tersebut karena pada saat pendaftaran calon kepala desa bersama-sama makan, dan pada saat acara makan dimulai, panitia lupa tidak memberikan sendok, akhirnya karena sebagian (bacalon, bakal calon) ada yang jebolan pesantren, dimana salah satu tradisi khas santri (makan tanpa sendok) terbawa ke masyarakat termasuk saat-saat makan bersama dengan orang lain. Benar-benar pemandangan yang sangat menarik, karena dapat menggambarkan bahwa mereka (4 kandidat tersebut) ingin desa Darungan dibangun secara bersama-sama, kepala desa sebagai pemimpin pasti dan tentu sangat membutuhkan partisipasi dan kerjasama dengan warga dalam membangun SDM, dan SDA desa. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar sampai akhir.

Staf Kesekretariatan NU Darungan

Sabtu, 03 Agustus 2019

NU NGAJI KITAB SULLAM TAUFIQ


NUDARUNGAN. Dalam rangka mengasah keilmuan pengurus dan anggota NU Darungan dilaksanakan kegiatan ngaji kitab Sullam Taufiq oleh Ust. Abd Rozaq (wakil katib.Red) yang dilaksanakan pada hari Sabtu malam Ahad, 3 Dzulhijjah 1440 (03/08/2019), bertempat di Sekretariat NU Darungan Desa Darungan Kec. Tanggul Kab. Jember Prov. Jawa Timur.

Kegiatan rutin ini bertempat di sekretariat NU Darungan sebagai penjabaran program kerja NU Darungan masa khidmat 2018-2023, kegiatan malam ini merupakan kegiatan bergantian setiap 2 (dua) pekan sekali, di bulan yang lalu (Juli) diisi dengan Khataman al Qur'an yang diikuti oleh pengurus ranting, anak ranting, dan ISNU Darungan.

Menurut Ust. Abu Hasan Toyyib (ABT), Ketua NU Darungan, menyatakan, “Alhamdulillah, kami (pengurus NU) sangat bersyukur, kegiatan ini masih berjalan, semangat pengurus-pengurus di jam’iyyah NU masih berkobar, mudah-mudah tetap semangat sampai akhir hayat.” Ujar Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan ini.

Kita ketahui bersama bahwa ngaji kitab Sullam Taufiq di awali dengan tawassul yang biasa di baca pada waktu kegiatan forum silaturrahmi dengan Ta’mir Masjid, Musholla, dan Nahdliyyin di masjid-masjid yang ada di desa Darungan. Adapun yang membaca dan menerangkan isi kitab (Sullam Taufiq) yang dikarang oleh Al-Allamah Asy-Syaikh Salim bin Abdulloh bin Sa’ad bin Abdulloh bin Sumair Al-Hadhromi Asy-Syafi’I asal Hadhromaut, Yaman biasanya dibacakan oleh Ust. Ach Sybli Azro'i (wakil rais.Red)

Minggu, 14 Juli 2019

NU BERUPAYA DETEKSI DINI ALIRAN DI MASYARAKAT

Dok: jamaah rutinan berpose usai acara
NUDARUNGAN. Dalam rangka memperat ukuwah islamiyah, NU Darungan Silaturrahmi Ta’mir Masjid, Musholla, dan Nahdliyyin yang dilaksanakan pada hari Ahad Kliwon, 11 Dzulqo'dah 1440 H (14/07/2019), bertempat di Masjid Baiturrohim PTPN XII Zeelandia Bagian Petung Tulis dusun Gondang Desa Darungan Kec. Tanggul Kab. Jember Prov. Jawa Timur.

Kegiatan rutin setiap satu bulan sekali ini masih terus dilestarikan oleh NU, acara yang di isi dengan pembacaan istighotsah, Surat Yasin, tahlil, dan Sholawat Nabi dengan nomor surat undangan: 086/PR/Tanf/L-32.12/VI/2019, tertanggal 26 Syawwal 1440 H / 1 Juli 2019 M dihadiri berbagai kalangan, diantaranya Ta’mir Masjid, musholla, ISNU, BPD, RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan warga desa Darungan.

Dalam sambutannya, Ust. Abu Hasan Toyyib (ABT), Ketua NU Darungan, menyampaikan bahwa, “Alhamdulillah, kami (pengurus NU) sangat bersyukur, karena masih banyak yang hadir diacara ini, tak lupa organisasi sayap NU yang baru terbentuk yaitu ISNU (Ikatan Sarjana NU), kami mengharap ada masukan, laporan anak ranting NU tentang kondisi aliran-aliran yang ajarannya tidak sesuai dengan apa yang kita pelajari dari pesantren, langkah awal, (anak ranting/pengurus ta’mir) menyelidiki bersama masyarakat setempat, jika tidak menemui penyelesaian, mari kita bahas ditingkat pengurus ranting, kita bersama PEMDES (Pemerintah Desa) akan berkoordinasi supaya dapat diselesaikan secara bijaksana.” Ujar Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan ini.

Secara terpisah, Ust. Abu Hasan Toyyib menyampaikan bahwa “NU telah menyatakan sikapnya dalam PILKADES (desa Darungan), yaitu netral (sesuai SK Nomor : 057/PR/A.II/L-32.23.003/IX/2018, tertanggal 1 Muharram 1440 H / 11 September 2018 M. Red).” Ujar Asatid Madrasah Diniyah pada Pondok Pesantren Al-Majidi, Desa Selodakon ini.

Sabtu, 13 Juli 2019

DI NU TAK ADA REBUTAN UNTUK JADI

DI NU TAK ADA REBUTAN UNTUK JADI

Sewaktu PBNU belum dikomandani Gus Dur, suasananya adem ayem belaka. Setelah dipimpin Gus Dur, ormas raksasa itu sering betul “dimeriahkan” oleh polemik yang marak akibat berbagai tindakan dan ucapannya. 

Gus Dur misalnya, pernah berselisih lama dengan pamannya, Yusuf Hasyim, seolah hampir berantem. Tapi kalau keduanya bertemu, seolah tak ada bibit permusuhan satu helai rambut pun.

Gus Dur juga pernah melekatkan kata stupidity pada Soeharto (dalam buku A Nation in Waiting Adan Schwarz), tapi tak lama kemudian runtang-runtung dengan anaknya, Tutut. Malah Tutut sempat diajak istigotsah ke pesantren-pesantren NU, dan dengan gembira ria karena diperkenalkan oleh Gus Dur sebagai “pemimpin Indonesia masa depan”.Orang-orang pun bertanya, kok bisa begitu ya?

Kalau sudah ditanya begini, Gus Dur akan mengutip konflik antara Rais Am NU KH Abdul Wahab Hasbullah dan wakilnya, KH Bisri Syansuri. Mereka ini, sering “bertengkar”, walaupun beripar.

“Kalau sudah berdebat hukum agama, muka mereka sampai merah, gebrakan-gebrakan meja lagi. Tapi kalau sudah mendengar azan, mereka berhenti dan menuju masjid bersama-sama. Sudah tidak ada masalah lagi.” Malah, katanya, mereka masih bisa bercanda segala.
“Kalau sudah menentukan siapa yang jadi imam, biasanya mereka saling dorong,” tuturnya. “Mbah Bisri meminta KH Wahab karena dianggap lebih tua. Ganti KH Wahab meminta Mbah Bisri karena dianggap yang punya masjid.

“Di NU itu tidak ada rebutan untuk jadi imam. Mungkin karena nggak ada duitnya.”

(SumberGer-Geran Bersama Gus Dur, Penyunting Hamid Basyaib dan Fajar W. Hermawan, Pustaka Alvabet, 2010)

Sumber : alif.id

Rabu, 10 Juli 2019

Bupati dan IPNU – IPPNU Sepakati Kegiatan

Bupati Jember bersama IPNU-IPPNU
Pemerintah Kabupaten Jember bersepakat dengan Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) Cabang Jember untuk membangun generasi bangsa.
Kesepakatan terjadi dalam pertemuan Bupati Jember dr. Hj. Faida, MMR dengan IPNU – IPPNU di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa, 09 Juli 2019.
“Mereka ingin ada sinergitas bersama, dan itu senada dengan keinginan bupati untuk bersinergi,” terang Bupati Faida kepada wartawan.
Pertemuan itu menyepakati untuk berperan dalam urusan kegiatan-kegiatan kepemudaan. Bupati pun memberikan tantangan kepada IPNU dan IPPNU.
Bupati meminta IPNU untuk menggelar Hadrah Kebagsaan. Sedang IPPNU diminta untuk menggelar pelatihan gender yang didalamnya ada materi fiqih wanita.
Kegiatan tersebut diharapkan sudah bisa terselenggara dalam waktu dekat.
“Mereka sanggup untuk menyelesaikan proposal dalam satu minggu. Kita tunggu saja realisasinya,” tutur bupati.
Ketua PC IPNU Jember, M. Ardi Wiranata, mengungkapkan kesanggupannya untuk menyelesaikan tugas dari bupati dalam waktu seminggu, yakni membuat proposal kegiatan.
“Saya kira seminggu bisalah,” ujarnya.
Ketua PC IPPNU Jember, Aini Viki Mardiyani, menjelaskan, kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah pelatihan gender.
“Kegiatan akan diselenggarakan dua minggu yang kedepan dan telah melakukan konsolidasi dengan pemateri. Kegiatan ini  akan difungsikan kepada para pelajar tingkat SMP dan SMA di daerah se-Jember,” terangnya.
Aini mengungkapkan dukungan bupati untuk pelaksanaan kegiatan tersebut. Sebab, pelatihan yang didalamnya ada fiqih wanita tersebut sangat penting untuk para wanita saat ini.
Bupati berpesan, keteladanan dan kemanfaatan yang maksimal dapat dilakukan dengan pembetukan organisasi baru di beberapa wilayah.
“Sehingga sinergi bisa menjangkau seluruh wilayah,” bupati.


x

Senin, 08 Juli 2019

Senin, 01 Juli 2019

ISNU DIBENTUK MENJAWAB PERKEMBANGAN


Dok. Suasana Musyawarah Pembentukan ISNU

NUDARUNGAN. Dalam rangka menjawab perkembangan jaman, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama’ Darungan membentuk Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama’ (ISNU) Desa Darungan pada hari Senin, (1/6/2019) di Musholla Aba Zainul Pakeman Dusun Jumbatan desa Darungan Kec. Tanggul dengan suasana kekeluargaan.

Dalam laporan panitia pelaksana, yang disampaikan oleh Bapak Syaifudin Zuhri, adapun isinya sebagai berikut : Pertama, ucapan terima kasih kepada tuan rumah atas keikhlasan dan kehangatan dengan kehadiran kami untuk ditempati pertemuan penting ini, permohonan maaf atas segala kekurangan dalam acara ini, dan ini merupakan bersejarah dalam perjalanan desa Darungan ini. Kedua, Latar Belakang Pembentukan ISNU adalah Pasal 19, ayat (7), hufuf c AD/ART NU, Pasal 10, dan Pasal 38 PD/PRT ISNU. Ketiga, Wacana pembentukan ISNU Darungan muncul pada tahun 2017, tetapi karena menunggu ISNU Tanggul ( yang dibentuk pada hari Sabtu Malam Ahad, 14 Ramadhan 1440 H / 18 Mei 2019 M di Kantor MWC NU Tanggul. Red), hal ini dilakukan sebagai bagian ketaatan kami kepada konstitusi NU dan ISNU. Keempat, Membantu program NU dalam menjawab permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) pada bidang pemikiran/mindsite dan kualitas nahdliyyin, membantu program pemerintahan desa dibidang tertentu, ikut mengawal pembangunan desa, rekomendasi kepada Internal (ISNU dan NU) dan Eksternal (PEMDES dan Masyarakat). Dan kelima, data terkini NU Darungan (sampai 28 Juni 2019.Red), warga desa Darungan yang masih kuliah ada 13 orang, Diploma (D-I sampai D-IV) 9 orang, sarjana 56 orang, sedangkan lulusan Pascasarjana (S.2) ada 5 orang.

Dalam arahannya, Ust. Abu Hasan Toyyib, Ketua NU Darungan, menyampaikan bahwa, “Siapapun yang terpilih nanti bisa membawa ISNU serta dapat mempertahankan dan membantu acara NU Darungan, dan acara ISNU tidak berbenturan dengan acara NU. pesan kami, pertama, dahulukan akhlakul karimah, tebarkan salam, dan Selalu koordinasi dalam kegiatan ISNU.” Ujar Alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan ini.

Dalam sesion pembahasan tata tertib yang dipimpin oleh bapak Sofiudin, S.H.I. Sekretaris ISNU Kec. Tanggul, ada beberapa revisi dalam tata tertib tentang quorum musyawarah dan syarat/kriteria Ketua, namun secara umum berjalan dengan lancar sejak pukul 10.07 WIB dan berakhir pukul 10.33 WIB.

Dalam sesion pemilihan ketua ISNU setelah melalui diskusi yang cukup alot, atas usulan peserta musyawarah akhirnya mengerucut kepada 4 (empat) kandidat diantaranya : Haris Sanjaya, S.Pd., Hasan Basri, S.Ud., M.Ag., Abdul Karim, S.Pd., Muhammad Holili, S.Pd., dan Nurul Hidayat, S.Pd.

Terpilih sebagai ketua ISNU Darungan, bapak Hasan Basri, S.Ud., M.Ag. dengan perolehan 8 (delapan) suara, mengungguli kandidat yang lain, yaitu bapak Haris Sanjaya 3 (tiga) suara, Abdul Karim 1 (satu) suara, Muhammad Holili 2 (dua) suara, dan Nurul Hidayat 1 (satu) suara.

Acara ini juga dihadiri oleh Ust. Abd. Rozaq (Wakil Katib Syuriyah NU Darungan), dan calon anggota ISNU yang tersebar dari berbagai 4 (empat) dusun di desa Darungan.

Berikut nama-nama Tim Formatur penyusunan Pengurus Ranting ISNU Desa Darungan masa khidmat 2019-2022
1.      Koordinator   : Hasan Basri, S.Ud., M.Ag                (KETUA TERPILIH)
2.      Anggota         : Haris Sanjaya, S.Pd.                         (dusun Gondang)
3.      Anggota         : Abdul Karim, S.Pd.                          (Karangjati dusun Krajan)
4.      Anggota         : Muhammad Holil, S.Pd.                   (Kidulkebun dusun Krajan)
5.      Anggota         : Nurul Hidayat, S.Pd.                        (Plalangan dusun Jumbatan)
6.      Anggota         : Indra Azizah, S.Pd.Paud                  (Karangsengon dusun Sumberbulus)
7.      Anggota         : M. Munir, S.A.N.                             (Plalangan dusun Jumbatan)
8.      Anggota         : H. Sahlan, S.Pd.                               (Durinan Dusun Sumberbulus)
9.      Anggota         : Sofiudin, S.H.I.                                (Sekretaris ISNU Tanggul)


Minggu, 14 April 2019

Ikut NU Hanya Ala Mbah Hasyim adalah Kampanye Memecah-belah NU (Mukercab NU Bekasi, Jabar)


Bekasi, NU Online
Akhir-akhir ini, sering terdengar sebuah kampanye baru yang menjadi upaya untuk mengadu domba warga Nahdlatul Ulama (NU).
Hal tersebut dikatakan Intelektual Muda NU Ulil Abshar Abdalla dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) NU Kota Bekasi, di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja, Bekasi Selatan, Sabtu (13/4).
"Kampanye itu adalah mengaku mengikuti NU, tapi NU ala Hadlratussyech KH Hasyim Asy'ari dan tidak menerima NU yang lain-lain. Kita harus bisa juga menerima KH Wahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid," kata Gus Ulil, begitu ia akrab disapa.
Menurutnya, NU yang hanya ingin mengikuti Mbah Hasyim saja, mirip dengan gaya wahabi. Yakni orang-orang Islam yang hanya ingin mengikuti Nabi Muhammad saja.
Gus Ulil meyakini bahwa tidak mungkin segala tindak-tanduk yang dilakukan Mbah Wahid dan Gus Dur tidak direstui Mbah Hasyim. Begitu juga halnya, Mbah Hasyim yang diyakini pasti meridhoi para kiai NU saat ini.
"Demikian juga Kanjeng Nabi yang pasti ridho terhadap apa yang dilakukan sahabat, tabi'in, tabi'in-tabi'in, dan ulama sampai saat ini," kata Doktor jebolan Universitas Boston, Massachussetts, Amerika Serikat ini.
Menantu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) ini lantas mengajak kepada warga NU, untuk senantiasa merawat tradisi yang ditinggalkan Gus Dur. "Karena NU bisa dihormati dunia saat ini, itu berkat suwuk (doa) tiga orang (Mbah Hasyim, Mbah Wahid, Gus Dur) itu," katanya.
Menurut Gus Ulil, kalau warga NU hanya memakai satu suwuk, maka tidak akan cukup. Karenanya, ketiga suwuk dari para sosok pilihan tersebut harus digunakan. "Karena kalau hanya pakai satu suwuk saja, bisa bahaya," pungkas Gus Ulil. 


Sumber : http://www.nu.or.id

Minggu, 31 Maret 2019

NU Menyambut Tantangan Era Teknologi


nudarungan. Tanggal 16 Rajab 1440 Hijriah yang bertepatan dengan hari Sabtu, 23 Maret 2019 menandai usia 96 tahun NU. Istighotsah digelar pada pagi itu kantor-kantor NU, masjid, mushala, pesantren, dan berbagai tempat lainnya di seluruh penjuru dunia yang menjadi pusat berkumpulnya warga NU untuk memanjatkan doa agar perjalanan NU ke depan dalam memperjuangkan kemuliaan Islam di Indonesia mendapatkan berkah dari Allah. Dalam perjalanannya hampir satu abad melintasi beragam zaman ini, NU telah mampu mengatasi berbagai tantangan. Dan tantangan baru berupa era teknologi menghadang di depan kita. 

Percepatan perkembangan teknologi memberi manfaat, tetapi sekaligus dapat menjadi bencana jika tidak dapat memanfaatkannya dengan baik. Banyak lembaga atau perusahaan besar yang memimpin pada era tertentu, tetapi kemudian tenggelam ketika mereka tidak mampu menyesuaikan diri dengan zaman baru. Organisasi Islam yang paling maju di era kolonial, Orde Lama, dan Orde Baru berbeda-beda, silih berganti. Bahkan ada di antaranya sudah bubar. 

Dalam konteks menghadapi berbagai perubahan zaman ini, NU selalu mampu menyesuaikan diri dengan baik. Salah satu karakter NU adalah fleksibilitas atau kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai zaman. Tentu saja, ini menjadi modal besar bahwa NU akan mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang akan datang dengan berbagai cirinya.

Sekalipun demikian, kita harus mampu menyiapkan diri dengan era teknologi ini sehingga bukan hanya menjadi konsumen atau sekadar eksis saja, tetapi harus mampu menjadi pemimpin dan menentukan arah perkembangan Islam di Indonesia. Dan untuk itu, modal yang diperlukan adalah kualitas sumber daya manusia. 

Dalam hal ini, kreativitas dan inovasi serta kolaborasi adalah kunci keberhasilan pada era yang dikenal dengan industri 4.0. Ini berbeda dengan kebutuhan sukses di zaman revolusi industri 2.0 yang menyaratkan adanya efisiensi dan efektifitas. Pada aspek kolaborasi, NU adalah sebuah komunitas yang erat. Jaringan aktivis NU ada di berbagai tempat yang satu sama lain saling terhubung. Mereka disatukan oleh cita-cita bersama untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat dengan ajaran Islam yang ramah di bawah ajaran Ahlusunnah wal Jamaah. 

Yang menjadi tantangan kini adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ini artinya adalah bagaimana kualitas pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ada banyak faktor yang menentukan kualitas sebuah lembaga pendidikan seperti kualitas pengajar, sarana dan prasarana, kurikulum. 

Berbagai kebijakan negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia berupa berbagai jenis beasiswa seperti beasiswa santri, Bidik Misi, LPDP, program 5000 doktor, dan lainnya memberi peluang bagi kader-kader muda terbaik NU untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau keahlian tertentu. Beberapa di antara mereka telah lulus dan mengabdikan diri di berbagai lembaga pendidikan NU. Lebih banyak lagi yang sedang menyelesaikan pendidikannya. Dan insyaallah, banyak sekali tunas-tunas muda NU yang di masa depan akan memperkuat NU dengan beragam keahlian yang mereka miliki. Ini menjadi modal NU dalam menyiapkan sumber daya manusianya di masa depan.

Kualitas pendidikan di Indonesia secara umum masih dianggap rendah. Dari indikator internasional seperti Programme for International Students Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan sains, matematika, dan membaca, rata-rata kemampuan anak Indonesia dalam ketiga bidang masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Ini tentu cerminan dari kualitas pendidikan di Indonesia. Lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan NU tentu tak jauh berbeda. Bahkan tantangannya menjadi lebih besar karena dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Apalagi lembaga pendidikan di lingkungan NU berusaha mengkombinasikan kemampuan intelektual sekaligus pemahaman keislaman. Ada lebih banyak materi yang harus dipelajari. Namun, jika berhasil, maka siswa yang dihasilkan merupakan siswa yang tidak sekedar pintar, tetapi juga berkarakter.

Persoalan yang dihadapi NU juga bukan sekedar sumber daya manusia, tetapi komposisi keahliannya. Selama ini, keahlian yang dimiliki oleh kader-kader NU adalah bidang ilmu-ilmu agama dan sosial humaniora. Sedangkan era teknologi membutuhkan orang-orang yang kompeten dalam bidang sains. Dengan demikian, perlu dilakukan perencanaan yang baik agar menghasilkan komposisi yang ideal.

Era teknologi terdapat penguasa-penguasa baru, yaitu mereka yang menguasai teknologi. Para pencipta aplikasi yang disukai oleh warganet, para ustadz yang ceramahnya di media sosial banyak diunduh dan ditonton. Orang-orang berpengaruh di media sosial yang akunnya diikuti oleh jutaan orang, sesungguhnya merupakan individu-individu atau sekelompok kecil yang memiliki pengaruh besar kepada publik. Ini semua adalah soal kreativitas dan inovasi.

Kita yakin bahwa NU akan tetap mampu memberi peran besar pada era teknologi ini. Ada banyak sekali sumber daya manusia kreatif dan inovatif yang bergerak, baik atas nama pribadi atau organisasi NU yang menyebarkan nilai-nilai NU. Bagaimana menciptakan lahan subur tumbuhnya tradisi berteknologi. Memberi ruang bakat-bakat yang ada untuk tumbuh dan berkembang guna memberi kontribusi kepada dunia.

Artikel ini bersumber di situs nuonline, www.nu.or.id.